Pilbup dan Pendidikan Politik Warga NU

Dr. Iman Satibi, Ketua STAINU Kebumen.

portal-indonesia.com, KEBUMEN – Keterlibatan politik NU bersama organisasi ke agamaan yg lain seperti Muhamadiyah, dan lainnya jauh telah dimulai semenjak Indonesia sebelum merdeka, yakni tepatya era kolonial.

Sampai saat ini relasi NU dan negara tidak dapat dipisahkan demikian pula organisasi ke agamaan yang lain. Apapun diksi yang digunakan baik istilah politik kebangsaan, politik keumatan, siyasah yang lain atau juga civil relegion, civic NU dan sebutan lainya itu hanya kemasan saja yang berbeda. Karena esensi politik adalah relasi kekuasaan.
Dialektika NU dan politik bisa jadi menurut sebagian penafsir telah diakhiri semenjak khithoh 1926 di Situbondo.

Bacaan Lainnya

Hal itu tidak salah jika diartikan politik itu partai. Namun demikian diskursus relasi NU dan kehidupan politik tidak bisa di lepaskan dalam kehidupan praktinya. Misalkan yang baru baru ini terjadi bagaimana warga NU secara all out mendukung Jokowi dalam Pilpres karena menggandeng tokoh dan struktural PBNU beliau KH.Maruf Amin sebaga Rois Am pada saat itu. Sahwat politik tidak bisa di nafikan, demikian pula yamg mengklaim tokoh NU dikubu sebelah.

Dinamika yang lainpun terjadi secara lokal dibasis basis daerah kantong NU dalam menghadapi Pilgub dan Pilbub.

Hal yang sama juga dilakukan organisasi ke agamaan yang lain. Berbagai narasipun dibangun sebagai wujud peran organisasi baik sebagai pressure group maupun interest group di daerah. Dalam kontek itu organisasi sebesar NU tentu tidak bisa cuek dan masa bodoh dengan lingkungan daerah sendiri. Keterlibatan NU dalam politik tentunya bukan sekedar dukung mendukung melainkan ingin berkontribusi lebih besar dalam manajemen berbangsa dan bernegara secara santun dalan bingkai mabadi Khoerul Umah dan Islam rohmatan lil”alamin.

Dalam hubungan dengan ormas lain tentunya bahian yang tidak terpidahkan dari fastabiqul khoerot. Saat naaif jika organisasi sosial apapun bersikap apatis terhadap kehidupan yang menyangkut warganya.

NU sebagai bagian dari civil religion tentunya akan selalui ber irisan dengan persoalan persoalan isu daerah baik yang strategis maupun praktis sepertihalnya pilbub. Strategi sebagai motor moderasi dan kemaslahatan umat tentunya harus ditransformasikan dalam kepemimpinan dan manajemen risiko daerah.

Persoalan persoalan daily seperti halnya kemiskinan, kriminal, kualitas keberagamaan, penyelenggaraan pendidikan dan pemerataan sumberdaya serta pembangunan fisik tentunya adalah bagian sinergitas program yang harus beriringan.

Panggilan- panggilan itulah yang menjadi bagian dan harus direfleksikan dalam hajat 5 tahunan pilkada.

Pilbub atau Pilkada bagi warga daerah merupakan sesuatu yang dinilai jauh lebih penting dibandingkan pilpres maupun pileg atau pilgub sekalipun. Hal ini sangat bersentuhan langsung baik terkait prestise daerah maupun establish suatu daerah.

Lebih lebih didalam suatu daerah yang terpapar kemiskinan dan barier barier pembangunan.

NU sebagai bagian civil society harus mengambil momentum sebagai media melakukan civic education sehingga warganya memiliki sense of belonging pada kemajuan daerahnya.

Peran kepemimpinan daerah (bupati) memiliki peran yang sangat efektif dan menentukan keberlangsungan progres kedepan. Sehingga tidak salah jika aliran dukungan ide, gagasan, konsep maupun dukungan politik menjadi hal yang rasional dan tidak bisa dihindari.

Demikian pula control dalam narasi kritik juga akan dilakukan oleh kelompok yang aspirasi berbeda. ini akan muncul sebagai sikap politik dari kubu yang berbeda dan bukan sebagai control moral yang tanpa interesh.

Disinilah pentingya sikap bijak dan awareness dalam bingkai toleransi lokal yang tidak perlu disikapi berlebihan. Seiring berakhirya hajat dipastikan masyarakat akan kembali dalam tatanan normal dan utuh dalam satu keputusan akhir.

Sebagai bangsa yang berjiwa besar tentunya akan mengembalikan segala dinamika secara proporsional, yakni ada kalanya berpolitik dan ada saatnya harus normal dalam cultural Habit.Kedewasaan berpolitik adalah kunci dari local wisdom sebagai karakter jati diri daerah. Sekian maturnuwun. (Dr. Imam Satibi, penulis adalah Ketua STAINU Kebumen)

Tinggalkan Balasan