Peristiwa DaerahPortal Jateng

Bekerja Menjadi ART 11 Tahun Tak Dibayar Hingga Meninggal, Begini Curahan Orang Tuanya

Turmidi (65) ayah kandung alm Siti Munasiroh, ART yang bekerja selama 11 tahun tidak dibayar hingga meninggal dunia. (Foto : Wahyudin / Portal Indonesia)

portal-indonesia.com,KEBUMEN – Putus kontak dengan anak hingga kemudian meninggal dunia tanpa bisa mengetahui penyebab pastinya, tentu sangat menyesakkan dada orang tua manapun. Itu pula yang di alami Turmidi (65), warga Dk Waluh Kulon RT 18 RW 07, Desa Waluyorejo, Kecamatan Puring, Kebumen.

Laki-laki tuna netra ini merasa sudah putus asa atas ketidak adilan yang menimpa anaknya bernama Siti Munasiroh yang meninggal di Purwakarta, Jawa Barat tanpa kejelasan yang pasti. Bukan itu saja, almarhumah ditengarai tidak pernah mendapatkan upah bayaran selama 11 tahun bekerja sebagai ART (Asisten rumah tangga).

Saat ditemui di rumahnya, Senin (6/7/2020), Turmidi menceritakan kronologi dari awal. Diceritakan, asetelah lulus MTs Siti Munasiroh berkata kepadanya bekerja membantu ekonomi keluarga. Padahal saat itu umur Siti masih 15 tahun.

Selain itu si anak juga mengatakan ingin meneruskan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi kepada Turmidi, yang kondisinya tuna netra dan hidupnya serba kekurangan.

“Saat itu saya suruh dia untuk berhenti dulu dan tahun berikutnya baru melanjutkan sekolah lagi setelah ada uang terkumpul. Tapi kemauan Siti Munasiroh kalau tidak sekolah ya bekerja”, kata Turmidi.

Lalu pada bulan Juli 2007 ada seorang tetangga berinisial SUK, akan menyalurkan kerja sebagai asisten rumah tanga melalui yayasan yang dimiliki SUK di Bandung. Akhirnya pada hari Minggu tanggal 29 juli 2007 Siti Munasiroh berangkat menuju Bandung bersama SUK dan satu orang temanya bernama Puji yang juga masih satu desa.

Namun setelah itu tidak ada lagi kabar dari Siti Munasiroh kepada keluarganya di Kebumen. Dikatakan Turmidi, bahkan sampai tanggal 6 Agustus 2016 sama sekali tidak ada kabar atau komunikasi dari anaknya, apalagi kirim uang seperakpun kepada keluarganya. Informasi dimana dan kerja dengan siapa juga tidak ada.

Dengan keterbatasan fisik yang tuna netra itu, Turmidi berusaha mencari informasi keberadaan anaknya tersebut dan meminta bantuan ke desa, Polsek Puring hingga Polres Kebumen untuk mencarikan info keberadaan anaknya. Namun, menurutnya ada tanggapan yang memuaskan.

BACA JUGA :   Terkait Gelar Akademik, Formasi Pasuruan Raya Tantang Kedua Paslon Buktikan Keabsahan Ijazah Ke Publik

Hingga akhirnya ia berangkat ke Bandung sitemabi salah seorang perangkat desa. Mereka menuju ke rumah SUK di kota kembang, tetapi lagi-lagi tidak ada kejelasan dari SUK dimana anaknya berada saat itu.

Usai dari Bandung, Turmidi melaporkan kejadian itu ke Pemdes Waluyoreho, Polsek Puring sampai Polres dan pernah di BAP tapi tidak ada kelanjutannya.

“Apa karena saya cacat dan orang tidak mampu sehingga tidak ada orang yang mau menolong saya”, ujarnya dengan nada sedih.

Sekitar 2 tahun kemudian Turmidi mendapat informasi pada hari Senin tanggal 23 Juli 2018 bahwa Siti Munasiroh telah meninggal dunia di Purwakarta. Didapati keterangan bahwa Siti Munasiroh mengalami luka – luka saat itu yang diperoleh dari keterangan saksi Dina dan Agus yang membawa ke RSUD Asih Purwakarta dan akhirnya korban meninggal dunia.

Sesuai dengan laporan Kartiyem Ibu korban dengan LP/B/627/VII/2018/JBR/RES PWK Tanggal 24 Juli 2018 pukul 11.55 Wib tanda terima pengaduan.
Tanggal 27 juli 2018 Polres Purwakarta memberitahukan perkembangan penelitian laporan tentang pidana pasal 44 ayat 1 dan 3, pasal 45 ayat 1 dan pasal 49 ayat 1 RI No.23 tahun 2004 tentang kekerasan dalam rumah tangga.

Pada tanggal 29 Juli 2018 surat pemberitahuan hasil pengembangan penyidikan (SP2HP) yang ke satu No.B/445/VIII/2018, setelah dilakukan penyidikan ditemukan bukti pemukulan yang kurang cukup bahwa terjadi tindak pidana kekerasan fisik dalam lingkup rumah tangga atau pnelantaran dalam rumah tangga ditemukan bukti pemukulan yang cukup selanjutnya akan melakukan penyidikan paling lama 14 hari.

Sampai berita ini diturunkan Portal Indonesia belum bisa menghubungi pihak penyidik di Polres Purwakarta melalui sambungan telpon tentang kelanjutan perkara tersebut.

Turmidi dan keluarga berharap agar yayasan yang menyalurkan Siti Munasiroh dapat mengusahakan gaji Siti Munasiroh selama 11 tahun bekerja tidak dibayarkan dan tidak ada santunan untuk sekedar suka cita atas musibah anaknya. “Tidak ada itikad baik dari yayasan penyalur tenaga kerja yang memberangkatkan Siti”, bebernya.

Dihubungi terpisah, Kepala Desa Waluyorejo, Tukijan, SPd menyampaikan bahwa kejadian itu sudah lama dan sudah duakali ganti Kepala Desa Waluyorejo dan dirinya Kades ketiga. Saat kejadian itu dia masih menjabat sebagai ketua PGRI Kebumen.

Meski demikian Tukijan berharap semestinya saat itu tidak ada berat sebelah dalam permasalahan dihadapan hukum, harus tajam ke segala arah dalam UUD 45 juga sudah diatur tentang itu, siapa yang harus menjalankan penegakan hukum harus tegas, sebagai warga negara sama kedudukanya didalam hukum baik dia pejabat, penegak hukum.

Kepala Desa Waluyorejo, Tukijan, SP. d

Disini harus diterapkan kepedulian penegak hukum, supaya diusulkan untuk kepala desa, masyarakat diharapkan bisa ada LBH yang gratis kalau ada permasalahan hukum dari pendampingan, konsultasi sampai eksen di pengadilan gratis, ini butuh diusulkan supaya ada dana untuk disisihkan untuk bantuan hukum buat masyarakat kecil untuk pendampingan hukum gratis.

BACA JUGA :   KKN Daring, Mahasiswi Semarang Ini Edukasi Masyarakat Akan Bahaya Covid-19

Mengenai hal ini, katanya, Desa Waluyorejo akan mendukung upaya- upaya mencari keadilan yang dilakukan masyarakatnya.

Sementara itu Keterangan yang didapat dari pemilik yayasan yang menyalurkan tenaga kerja almarhumah Siti Munasiroh melalui Luusiman yang dihub lewat ponselnya membenarkan bahwa pada 2007 datang Siti Munasiroh diatar oleh ibunya ke tempat SUK minta dicarikan kerja.

Pihak Yayasan selanjutnya menyalurkan ke seorang yang membutuhkan jasa ART. Namun tidak lama berselang, ternyata orang tersebut pindah rumah dan tidak ada pemberitahuan ke yayasan.

“Yayasan sejak itu mencari terus keberadaanya Siti Munasiroh, namun kami seperti lost kontak dan kehilangan jejaknya”, kata Lusiman.

Pada tahun 2018 pihak yayasan mendengar adanya ART yang meninggal tidak wajar di wilayah hukum Polres Purwakarta dari saudaranya yang kerja di Polres Bandung.
Pihak Yayasan pun ikut dalam otopsi jenazah Siti Munasiroh, tapi keterangan dari hasil otopsi tersebut, kata Lasimab infonya tidak jelas.

Disinyalir rumah sakit yang merawat dan mengotopsi juga kurang beres karena setelah meninggal dan diotopsi jenazah langsung dikuburkan pihak rumah sakit.

Dikatakan Lusiman, pihak yayasan pernah menawarkan bantuan hukum kepada keluarga, akan mengusahakan supaya uang gaji Siti Munasiroh yang 11 tahun bekerja bisa diberikan ke keluarga dengan meminta surat keterangan kepada pihak desa. Tetapi pihak keluarga menyampaikan kepada perangkat desa mengatakan bahwa sudah jangan dipersoalkan lagi, biarlah Siti Munasiroh sudah tenang disana.

“Jika ingin mendapatkan keterangan lebih jelasnya bisa dikonfoemasi ke paman saya yang ada di Polres Bandung yang mengawal hingga sampai Polres Purwakarta”, katanya. (Wahyudin)

Tags

Tinggalkan Balasan

Back to top button
Close
Close
%d blogger menyukai ini: